Pembelajaran Kuantum (Quantum Teaching)

Pembelajaran Kuantum (Quantum Teaching) diciptakan berdasarkan teori-teori pendidikan seperti Accelerated Learning (Lozanov), Multiple intelegences (Gardner), Neuro-Linguistic Programming (Grinder dan Bandler), Expereintal Learning (Hahn), Socratic Inquiry, Cooperative Learning (Johnson dan Johnson), dan Elements of Effektive Intruction ( Hunter), (DePorter, 2009:4). Dengan demikian, dapat dicermati bahwa pembelajaran kuantum (Quantum Teaching) merupakan intisari dari berbagai teori pembelajaran yang memungkinkan optimalisasi proses dan hasil pembelajaran dengan cara mengupayakan daya tarik pembelajaran, memotivasi siswa belajar, dan menumbuhkan kepercayaan diri siswa melalui pengorganisasian yang dikelola oleh guru. Quantum Teaching berfokus pada hubungan dinamis dalam lingkungan belajar dan interaksi yang membangun landasan dan kerangka yang kuat untuk belajar.

  1. Asas Utama Model Pembelajaran Kuantum (Quantum Teaching)

Model pembelajaran kuantum (Quantum Teaching)  bersandar pada satu asas “Bawalah dunia mereka ke dunia kita, dan antarkan dunia kita ke dunia mereka” (DePorter, 2009:6). Asas ini dapat dapat diartikan bahwa apapun yang ada di dalam diri guru harus mampu membawa anak didik untuk memahami dan mencoba menerapkannya dalam kehidupan. Asas ini mengingatkan kita betapa pentingnya memasuki dunia peserta didik untuk langkah pertama dan utama di dalam pembelajaran. Jika kita sudah dalam dunia peserta didik maka akan lebih mudah untuk menerapkan berbagai metode pembelajaran yang sesuai dengan keinginan dan mampu membawa mereka untuk belajar.

  1. Prinsip Model Pembelajaran Kuantum (Quantum Teaching)

Model Pembelajaran Kuantum (Quantum Teaching) memiliki lima prinsip dasar, antara lain: (1) segalanya berbicara, (2) segalanya bertujuan, (3) pengalaman sebelum pemberian nama, (4) akui setiap usaha, dan (5) jika layak dipelajari maka layak pula dirayakan (DePorter, 2009: 7).  Adapun maksud dari prinsip-perinsip tersebut sebagai berikut:

  1. Segalanya berbicara

Segalanya dari lingkungan kelas hingga bahasa tubuh dari guru, kertas yang guru bagikan hingga rancangan pembelajaran guru mampu mengirim pesan tentang pembelajaran yang akan disampaikan dalam pengajaran tersebut.

  1. Segalanya  bertujuan

Segalanya  bertujuan maksunya segala sesuatu penyusunan pembelajaran yang dilakukan oleh seorang guru yang akan diberikan kepada siswa harus mempunyai tujuan dan batasan tertentu secara jelas.

  1. Mengakui setiap usaha

Dalam tahapan ini seorang guru harus mampu membangkitkan rasa percaya diri peserta didik dengan cara guru harus mengakui dan memperkuat bahwa apa yang mereka lakukan sudah sesuai dengan aturan dan terus memberikan motivasi agar siswa mampu berkembang dan terus belajar tanpa mengenal rasa lelah.

  1. Layak dipelajari maka layak pula dirayakan

Perayan atau memberikan sesuatu sebagai re-ward adalah suatu umpan balik mengenai kemajuan siswa.

  1. Karakteristik Pembelajaran Kuantum (Quantum Teaching)

Secara umum, pembelajaran kuantum (Quantum Teaching)  mempunyai karakteristik sebagai berikut: (1) Berpangkal pada psikologi kognitif, (2) Bersifat humanistik, manusia selaku pembelajar menjadi pusat perhatian. Potensi diri, kemampuan pikiran, daya motivasi dan sebagainya dari pembelajar dapat berkembang secara optimal dengan meniadakan hukuman dan hadiah karena semua usaha yang dilakukan pembelajar dihargai, (3) Bersifat konstruktivistis, artinya memadukan, menyinergikan, dan mengolaborasikan faktor potensi diri manusia selaku pembelajar dengan lingkungan (fisik dan mental) sebagai konteks pembelajaran. Oleh karena itu, baik lingkungan maupun kemampuan pikiran atau potensi diri manusia harus diperlakukan sama dan memperoleh stimulant yang seimbang agar pembelajaran berhasil baik, (4) Memusatkan perhatian pada interaksi yang bermutu dan bermakna. Dalam proses pembelajaran dipandang sebagai penciptaan intekasi-interaksi bermutu dan bermakna yang dapat mengubah energi kemampuan pikiran dan bakat alamiah pembelajar menjadi cahaya yang bermanfaat bagi keberhasilan pembelajar, (5) Menekankan pada pemercepatan pembelajaran dengan taraf keberhasilan tinggi. Dalam prosesnya menyingkirkan hambatan dan halangan sehingga menimbulkan hal-hal yang seperti: suasana yang menyenangkan, lingkungan yang nyaman, penataan tempat duduk yang rileks, dan lain-lain, (6) Menekankan kealamiahan dan kewajaran proses pembelajaran. Dengan kealamiahan dan kewajaran menimbulkan suasana nyaman, segar sehat, rileks, santai, dan menyenangkan serta tidak membosankan, (7) Menekankan kebermaknaan dan kebermutuan proses pembelajaran. Dengan kebermaknaan dan kebermutuan akan menghadirkan pengalaman yang dapat dimengerti dan berarti bagi pembelajar, terutama pengalaman perlu diakomodasi secara memadai, (8) Memiliki model yang memadukan konteks dan isi pembelajaran. Konteks pembelajaran meliputi suasana yang memberdayakan, landasan yang kukuh, lingkungan yang mendukung, dan rancangan yang dinamis. Sedangkan isi pembelajaran meliputi: penyajian yang prima, pemfasilitasan yang fleksibel, keterampilan belajar untuk belajar dan keterampilan hidup, (9) Menyeimbangkan keterampilan akademis, keterampilan hidup dan prestasi material, (10) Menanamkan nilai dan keyakinan yang positif dalam diri pembelajar. Ini mengandung arti bahwa suatu kesalahan tidak dianggapnya suatu kegagalan atau akhir dari segalanya. Dalam proses pembelajarannya dikembangkan nilai dan keyakinan bahwa hukuman dan hadiah tidak diperlukan karena setiap usaha harus diakui dan dihargai, (11) Mengutamakan keberagaman dan kebebasan sebagai kunci interaksi. Dalam prosesnya adanya pengakuan keragaman gaya belajar siswa dan pembelajar, (12) Mengintegrasikan totalitas tubuh dan pikiran dalam proses pembelajaran, sehingga pembelajaran bisa berlangsung nyaman dan hasilnya lebih optimal.

  1. Langkah-langkah Pembelajaran Kuantum (Quantum Teaching)

Dalam suatu pembelajaran, guru tentunya harus menyiapkan suatu rancangan pembelajaran yang dapat mengatur jalannya pembelajaran dengan baik. Perancangan yang tepat dapat memudahkan pencapaian tujuan belajar yang dikehendaki. Dalam penerapan model pembelajaran kuantum (Quantum Teaching) digunakan rancangan belajar yang dikenal dengan sebutan TANDUR (Tumbuhkan, Alami, Namai, Demonstrasikan, Ulangi, dan Rayakan) (DePorter, 2009:10). Dengan demikian, pembelajaran kuantum(Quantum Teaching) terdiri dari enam tahap pembelajaran, yaitu sebagai berikut.

  1. Pada tahap Tumbuhkan; sebagai langkah awal, yaitu menumbuhkan minat belajar siswa dengan memuaskan, tentunya dengan orientasi manfaat konsep yang akan dibelajarkan ditinjau dari segi kehidupan pelajar. Sertakan diri mereka, pikat mereka, puaskan AMBAK (Apa Manfaatnya, BagiKu). Dengan menumbuhkan minat dan menyampaikan manfaat mengarang deskripsi kepada siswa dapat mempermudah menuangkan materi karena siswa telah mengetahui bahwa mengarang deskripsi itu sangat bermanfaat.
  2. Pada tahap Alami; ciptakan pengalaman-pengalaman umum yang dapat dimengerti oleh semua siswa, memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan demonstrasi atau eksperimen sendiri. Dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengalami sendiri kegiatan mengarang deskripsi, maka siswa akan terlibat langsung dalam pembelajaran mengarang deskripsi.
  3. Pada tahap Namai;  menyediakan kata-kata kunci, konsep, strategi, rumus, dan lain-lain yang merupakan materi utama yang menjadi pesan pembelajaran. Pada tahap ini, guru menyediakan kata-kata kunci, petunjuk singkat, dan penjelasan minimal tentang mengarang deskripsi, kemudian didiskusikan dalam konteks apa yang diamati dalam tahap sebelumnya. Hal ini dapat merekatkan pengetahuan yang dimiliki melalui tahapan sebelumnya.
  4. Pada tahap Demonstrasikan; menyediakan kesempatan bagi siswa untuk menunjukkan bahwa mereka tahu. Memberikan kesempatan bagi mereka untuk mengaitkan pengalaman dengan data baru, sehingga menghayati dan membuatnya sebagai pengalaman pribadi. Tahapan ini memberikan peluang kepada siswa untuk menterjemahkan dan menerapkan pengetahuan mereka ke dalam pembelajaran dan dalam kehidupan mereka. Melalui tahap demonstrasi, siswa diberikan kesempatan menunjukkan kemampuannya dalam mengkonstruksi pengetahuan konsep tentang mengarang deskripsi.
  5. Pada tahap Ulangi; tunjukkan kepada siswa cara-cara mengulang materi menegaskan “aku tahu bahwa aku memang tahu ini”. Rekatkan sistematika, gambaran, atau cara mereka menggabungkan konsep yang telah mereka pahami dan manfaatkan kelompok kecil untuk menampilkan kegiatan ini. Pengulangan akan memperkuat ingatan dan menumbuhkan rasa”aku tahu bahwa aku memang tahu ini”. Siswa diberi kesempatan untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi yang dipelajari yaitu tentang mengarang deskripsi. Pemberian pengulangan ini dimaksudkan untuk meyakinkan pada siswa bahwa dirinya memang mengetahui apa yang diketahui tentang mengarang deskripsi. Dengan demikian siswa akan mantap terhadap apa yang telah dipahami dalam menulis sebelumnya.
  6. Pada tahap Rayakan; pengakuan atas upaya siswa menampilkan penyelesaian, partisipasi, dan pemerolehan keterampilan ilmu pengetahuannya. Perayaan dapat memberikan rasa dengan menghormati usaha, ketekunan, dan kesuksesan. Misalnya dengan pujian “ kamu telah mengalami kemajuan dalam belajar!”. Perayaan dalam mengarang deskripsi sangat mempengaruhi kinerja siswa selanjutnya dalam mengarang.

SUMBER:
DePorter, B., Reardon., dan Nourie. S.S. 2009. Quantum Teaching: Mempraktikkan Quantum learning di Ruang-ruang Kelas. Bandung: Kaifa.

Advertisements

Posted on March 21, 2014, in Model Pembelajaran, Pendidikan and tagged . Bookmark the permalink. 2 Comments.

Ada pertanyaan atau komentar?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: